Farihik’s blog

Keberhasilan karena belajar dengan cinta

Mabuk, 11 Murid SMA Dikeluarkan

KEBUMEN – Sebanyak 11 siswa SMA Negeri Klirong, Kebumen dikeluarkan dari sekolah dan dikembalikan kepada orang tuanya setelah diketahui mabuk-mabukan di sekolah. Kebijakan itu dikeluarkan pihak sekolah setelah menggelar rapat antara dewan guru dan komite sekolah.

Kepala SMA Negeri Klirong Drs Sugito, Selasa (15/4) membenarkan kebijakan untuk mengembalikan sebanyak 11 siswanya kepada orang tuanya. Mereka yang terkena sanksi terdiri dari dua siswa kelas 10 dan sembilan siswa kelas 11. Keputusan tersebut berlaku sejak Kamis (10/4) lalu. ”Istilahnya bukan dikeluarkan, tapi dikembalikan kepada orang tuanya,” kata Sugito.

Sugito menambahkan, sejak masuk sekolah, siswa sudah terikat dengan pada aturan yang berlaku di sekolah yang saat ini dipimpinnya. Di antaranya pihak sekolah tidak akan toleransi dengan tiga pelanggaran berat yang dilakukan siswanya yakni melakukan minum-minuman keras, perkelahian dan menghamili/hamil di luar nikah.

Konsekuensi

”Sejak siswa masuk mereka sudah mengetahui aturan itu. Mereka juga tahu konsekuensi jika melakukan pelanggaran,” tandas Sugito.
Dengan hukuman itu, ia ingin memberikan efek jera kepada siswa. Harapannya tidak ada lagi pelanggaran yang dilakukan oleh siswa.

Secara terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kebumen, Drs Maryono mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan terkait dikembalikannya 11 siswa kepada orang tua karena ketahuan mabuk. Menyikapi persoalan itu, Dinas P dan K cukup dilematis.

”Di satu sisi itu menegakkan aturan untuk memebrikan efek jera, namun di sisi lain kasihan juga kepada siswa yang dikenai sanksi,” katanya sembari menyebutkan keputusan terakhir berada di pihak sekolah dan komite bersangkutan…

sumber : http://www.kebumenkab.go.id/index.php?name=News&file=article&sid=101

2 Mei, 2008 Ditulis oleh farihik | Berita | | 1 Komentar

Unjuk Rasa Mahasiswa Warnai Hardiknas di Yogyakarta

YOGYAKARTA—Kebumen: Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan anggota LSM mewarnai peringatan Hari Pendidikan Nasional 2008 di Yogyakarta, pada Jumat (2/5).

Para peserta aksi membawa poster dan spanduk berjalan kaki dari Jl Abu Bakar Ali, Kotabaru, menuju Jl Malioboro, kemudian mampir di halaman Gedung DPRD DIY, depan pintu gerbang kompleks perkantoran Kepatihan, dan berakhir simpang empat Kantor Pos Besar, tempat yang biasa dimanfaatkan oleh para pengunjuk rasa disebabkan tempat ini strategis dan mudah diakses oleh hampr semua lapisan, komponen, dan terutama wartawan.

Dalam orasinya mereka menolak Rancangan Undang-undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) dan menuntut pemerintah untuk merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20% di luar gaji guru dan karyawan.

Selain itu, mereka juga menuntut pemerintah mencabut Undang-undang (UU) No 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) No 60/61 Tahun 1999 tentang Otonomi Kampus dan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) serta memberikan pendidikan layak dan memadai kepada rakyat.

Pada kesempatan itu, koordinator aksi, Supriyanto mengatakan pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin oleh negara.

Kondisi pendidikan saat ini diwarnai komersialisasi yang mengakibatkan biaya pendidikan semakin mahal, membengkak dan hampir tidak terjangkai oleh seluruh lapisan warga negara. Meskipun biaya pendidikan mahal pada kenyataannya tidak ditunjang oleh fasilitas yang layak dan memadai, sehingga pendidikan hanya mengeruk keuntungan dan tidak memberi keberuntungan pada warga negara (tambahan saja)

Aksi yang berlangsung aman dan tertib tersebut memperoleh pengawalan dan penjagaan aparat kepolisian setempat….

Ahh nasib orang kecil yang sanantiasa dimanfaatkan oleh Kekuasaan tetapi tidak bisa memanfaatkan kekuasaan…. Kapan keadilan ini sampai kepada WNI ?

2 Mei, 2008 Ditulis oleh farihik | Berita | , , , | & Komentar

Tokoh Lintas Agama Asia Lakukan Pertemuan di Jakarta

JAKARTA–MI: Tokoh lintas agama dari negara-negara di Asia akan melakukan pertemuan di Jakarta pada 14-17 Mei 2008 untuk membahas pokok-pokok masalah yang akan dibicarakan dalam Konferensi Agama-Agama untuk Perdamaian Asia (Asian Conference on Religions for Peace/ACRP).

“Sebanyak 35 tokoh berbagai agama di Asia akan menghadiri pertemuan awal ACRP di Jakarta pada 14 Mei yang rencananya dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla,” kata Ketua Indonesian Committee on Religions for Peace (IComRP) Din Syamsuddin di Jakarta, Jumat (2/5).

Din yang pada kesempatan itu didampingi tokoh lintas agama anggota IComRP menjelaskan, pertemuan itu dilakukan dalam rangka persiapan pertemuan ACRP ketujuh di Manila pada 17-21 OKtober 2008.

Menurut Din, pertemuan ACRP ketujuh akan membahas lima hal pokok yakni upaya mewujudkan perdamaian melalui penciptaan keamanan dan transformasi konflik; melalui penegakan hak asasi manusia dan pendidikan perdamaian melalui nilai-nilai umum dan pembangunan komunitas; melalui pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial serta dengan memulihkan luka lama dan membangun masa depan.

Hasil pertemuan ACRP tersebut, kata Sekretaris Jendral IComRP Theophilus Bela, selanjutnya diharapkan bisa memberikan sumbangan berarti bagi upaya untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan masyarakat di Asia dan dunia..

berita dari MI : http://www.mediaindonesia.com/humaniora Jum’at, 02 Mei 2008 23:36 WIB

2 Mei, 2008 Ditulis oleh farihik | Berita | , , , | No Comments Yet

Salut Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,


“Jangan Pernah setori Saya”
Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008
RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.
Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya “galak” dan “menyentak”. Saking “galaknya”, anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.
Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). “Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.
Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. “Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan,” kata suami dari Ny. Herawati itu.
Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.
Berikut petikan wawancara wartawan “PR” Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.
Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?
Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ’kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.
Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.
Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?
Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.
Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya “bersihkan” dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.
Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.
Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran.. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.
Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha , mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.
Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.
Untuk program “bersih-bersih” itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?
Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.
Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.
Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.
Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?
“Hahaha…. (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.
Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.
Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.
Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus korupsi?
Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar.
Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap “bermain” bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.
Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.
Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.
Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?”
Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?
“Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.
Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.
Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.
Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.”
Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan kepolisian?
“Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.”
Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.
Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan pelacur. ***

15 Februari, 2008 Ditulis oleh farihik | Uncategorized | | No Comments Yet

Ajakan selalu ada dua

Untuk melakukan kebaikan pasti butuh perjuangan

Ada perjuangan untuk tetap dalam kebaikan itu

ada perjuangan untuk menepis komentar atas usaha untuk baik itu

ada pula yang mesti lebih bersabar dengan komentar-komentar yang menjadikan

panas telinga (bukan cuma telepon saja sampai kuping panas khan?)  Nah kini kita yang sering punya kerja untuk ajak mengajak pasti selalu ada kebalikan dari usaha kita. Kesabaran , ketabahan , ketekunan pasti akan mendapat kemudahan dari Yang Memberi Kemudahan, pasti ada pertolongan dari Sang Pemberi Pertolongan…

Marilah kita bersabar, terutama aku sendiri…

31 Januari, 2008 Ditulis oleh farihik | Ajakan | | No Comments Yet

Kemenangan Kita

Ketika memasuki bulan Syawwal setelah Ramadlan hampir semua orang menyatakan “memasuki bulan kemenangan”. Memang benar diakui bahwa Syawwal adalah bulan kemenangan tetapi tidak semua orang yang memasuki bulan syawwal berarti otomatis menjadi pemenang. Karena kemenangan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan tidak akan datang dengan tiba-tiba.

Terkadang perasaan menyatakan jika telah memasuki bulan kemenangan seolah ikut menjadi pemenang, padahal bisa saja orang memasuki bulan kemenangan tetapi dia menjadi pecundang! na’udzubillah wal ‘iyadzu billah . Persis keadaan di Indonesia negara yang kaya raya, sering digambarkan orang jawa dengan gemah ripah, loh jinawi, tata titi tentrem karta raharja, apa kang sarwa tinandur dumadi. Atau dikatakan dengan bukan lautan hanya kolam susu, tonggak kayu dan batu menjadi tanaman. Sayang sekali hal itu jika meninabobokkan penduduknya sehingga menjadi generasi yang merasa kaya, karena tinggal di negara yang kaya raya. Kekayaan itu seharusnya diperjuangkan bukan langsung diterima begitu saja dengan abra ka dabra atau sim salabim dengan menyatakan sesame buka pintu (kekayaan). Sama perihalnya dengan orang-orang yang memasuki bulan kemenangan, tidak otomatis mejadi pemenang
Kini siapapun diantara manusia yang memasuki bulan kemenangan ini alangkah indahnya jika masing-masing berusaha berjuang dan memperjuangkan kemenangan itu agar bisa seperti orang jawa katakan ngalahake tanpa ngasorake ( menjadi pemenang tanpa menghinakan).
Semoga Allah SWt selalu membuka kemenangan itu terhadap diri kita terhadap hati kita dalam perjuangan mengalahkan hawa nafsu yang emnginginkan berlebih-lebihan mencintai dunia dan takut mati.

19 Januari, 2008 Ditulis oleh farihik | Perjuangan | | No Comments Yet

Aku

Aku belajar membuat blog

Aku masih sangat butuh bantuan

Aku ingin mendapat banyak masukan

Aku terus belajar

belajar

Belajar

BELAJAR

belajar

19 Januari, 2008 Ditulis oleh farihik | Uncategorized | | No Comments Yet

Menurutku Penting, Menurutmu Bagaimana?

Kadangkala, sebuah rumah tangga bisa retak bahkan hancur-lebur berakhir dengan perceraian hanya oleh sebab permasalahan yang sepele. Hal kecil yang dibesar-besarkan, atau hal besar yang dianggap kecil. Sebagian berkasus karena adanya perbedaan pendapat dan perbedaan sudut pandang mengenai suatu permasalahan. Suasana yang tadinya adem ayem, bisa berubah menjadi perang dingin gara-gara salah tangkap terhadap perkataan si pasangan. Kericuhan kecil itu bisa berbuahkan macam-macam. Muncul kata,”maksud lo” sehingga bisa Saling mentertawakan dalam ketidaknyambungannya masing-masing, atau bahkan berakhir dengan pertengkaran. Kalau yang terakhir ini, seringkali menjadi sad ending. Ndak enak tentunya.Banyak pakar kerumahtanggaan, atau konsultan perkawinan, sampai sesepuh yang telah banyak makan asam garam menyatakan, bahwa inti dari semuanya adalah masalah komunikasi. Bagaimana sepasang suami istri dapat menyatakan sikap dan pendapatnya dengan cara yang baik, pada waktu yang tepat. Seringkali, antara keduanya ndak match, alias tidak nyambung. Memang sulit, ketika permasalahan muncul, mungkin salah satu dari keduanya sedang mengalami bad mood dan tak tepat tentu bila harus menambah lagi beban perasaan dan pikiran padanya. Tetapi rasanya masalah itu demikian mendesak, hingga tak sabar untuk segera diungkapkan. Mulailah pembicaraan itu dilakukan dengan sedikit bumbu emosi, hingga lupa akan kata-kata santun dan cara yang baik itu tadi. Ujung-ujungnya, bila lawan bicara tidak mengupayakan kesabaran dan kelegaan hati, pesan yang ingin disampaikan malah berbalik menjadi adu mulut. Pesan tak sampai, pertengkaran dituai. Habis mau bagaimana, sudah kadung emosi, jadinya mencak-mencak saja. Begitu apologist.Sedikit banyak, cara berpikir atau sudut pandang seorang pria dalam memandang sebuah permasalahan, bisa berbeda dari seorang wanita. Hal-hal yang dianggap begitu berarti dan meninggalkan kesan bagi seorang wanita, seringkali tak dipandang sebelah mata pun oleh seorang pria. Artinya, bagi mereka, hal-hal kecil tersebut tidak dianggap sebagai hal utama yang harus menguras hati dan pikiran. Sebab masih banyak hal-hal lain yang menempati prioritas tersebut. Contohnya, bagi seorang suami, memikirkan bagaimana caranya untuk menghemat pengeluaran ketika akan membetulkan genting rumah yang rusak, akan menempati sisi ruang pikirannya ketimbang bagaimana perasaan seorang istri yang merasa kesal, letih, dan mengeluhkan perasaannya ketika harus mengepel sendirian saat air bocoran atap menggenang di tiap sudut rumah. Seringkali, seorang pria memaknai suatu permasalahan dengan logikanya; di mana letak kekeliruan, bagaimana upaya memperbaiki, masuk akal atau tidak, seberapa penting urusan itu, dan sebagainya. Sedangkan wanita, sering memaknainya dengan perasaan dan hati; betapa sakit atau sedihnya ketika mengalami suatu kesulitan, seberapa besar kesan yang berbekas dari sebuah kejadian, apa yang dirasakan ketika sebuah pekerjaan dilakukan, dan lain-lain. Tidak selalu memang, tetapi hal ini seringkali dialami. Akibatnya, ada hal-hal yang terasa ndak nyambung ketika suatu permasalahan (baik kecil maupun besar) terkuak dan harus segera diselesaikan.Hal tersebut memang tidak bisa digeneralisasi, walaupun banyak penelitian membuktikannya dengan berbagai studi kasus. Sebab, setiap manusia memang diciptakan Allah dengan berbagai kelebihan dan kekurangan. Mengapa perbedaan tersebut ada pada diri tiap pria dan wanita, adalah karena Allah menciptakan dua makhluk tersebut untuk saling melengkapi dan saling menentramkan. Kelebihan yang ada pada diri seorang pria, akan dapat menutupi dan melengkapi kekurangan yang ada pada diri seorang wanita, dan sebaliknya. Bila dikatakan seorang pria berasal dari Planet Mars, hingga mereka terkesan begitu asing bagi seorang wanita, mungkin agak terlalu berlebihan adanya. Malah bisa jadi, ungkapan tersebut akan mendorong otak dan hati kita untuk berpikir macam-macam dan mencari-cari sisi perbedaan dari lawan jenis atau pasangan kita. Yang akhirnya akan timbul, adalah perasaan nelangsa bahwa harus menghadapi perbedaan itu seumur hidup!.Mengapa tidak? Ya mengapa tidak mengutamakan berpikiran positif saja? Bahwa ketika konflik kecil muncul akibat perbedaan cara berpikir itu, masing-masing bisa menjelaskan alasan dari pernyataan sikapnya. Menjelaskan manfaat dan mudharat-nya, sehingga bisa dilihat bersama, mana argumen yang lebih baik, yang bisa diterima dan dilaksanakan(ah logika lagi). Termasuk bila menyangkut urusan rumah tangga. Masalahnya menyelesaikan konflik dengan emosi hanya akan menimbulkan perdebatan panjang yang tidak akan membawa hasil yang baik bagi keduanya(tidak selalu ‘kale). Sebab bila emosi sudah muncul, maka amarah akan mudah untuk tersulut, dan bila api sudah menyala besar, maka sangat sulit untuk meredamnya. Mendahulukan kelapangan hati untuk menerima segala pendapat yang dikeluarkan pasangan, untuk kemudian sama-sama merundingkan dan memikirkannya dengan baik, adalah langkah yang bijaksana. Sehingga keduanya bisa saling memberikan masukan positif dan diterima dengan baik, tentunya dengan memperhatikan cara penyampaian dan waktu yang tepat. Memang tak mudah, sebab untuk melakukannya diperlukan pertimbangan cermat akan kondisi hati dan fisik pasangan. Saat ia lelah dan kelihatan sedang menanggung beban berat, bukan gerutuan dan keluh panjang yang ia butuhkan. Sepertinya memang diperlukan kemauan kuat untuk dapat mengatur diri dalam menghadapi segala situasi ketika masalah itu muncul. Menahan diri untuk tidak menyampaikannya sampai kondisi benar-benar memungkinkan, akan jauh lebih efektif dibandingkan langsung dimuntahkan ditambah emosi pula. Bila dalam pekerjaan dan aktivitas keseharian kita dapat berlaku efektif, mengapa sulit untuk mengusahakannya demi kelancaran berkomunikasi dengan pasangan?Segalanya memang keluar dari hati, dan dasarnya adalah keimanan. Ketaqwaan dan kedekatan diri pada Allah akan menjadikan diri ini lebih bersabar dan tenang dalam menghadapi segala sesuatu. Bukankan setan memang selalu ada untuk menggoda manusia? Ia tak akan henti-hentinya menghembus-hembuskan kebencian dan kedengkian, hanya untuk merusak hubungan yang telah terjalin indah, berdasarkan cinta karena-Nya. Dan kita tak boleh lupa, bahwa setan adalah musuh nyata bagi manusia.                 KarenA itu….1.      Memulai komunikasi dengan mengintrospeksi diri masing-masing, melihat lebih dalam pada suatu hal yang ingin dibicarakan dengan pasangan. 2.      Memahami bahwa setiap diri kita memiliki sifat yang berbeda, dan perbedaan itu seharusnya dapat menjadi sebuah kebaikan sebab akan dapat saling melengkapi. 3.      Menyadari bahasanya proses mengetahui dan memahami karakter dan sifat pasangan adalah proses pengenalan yang akan berlaku sepanjang masa. 4.      Selalu membuka dengan lapang hati dan pikiran sehingga komunikasi berjalan lancar, akan berbungakan ketenteraman hati sehingga  membuahkan rasa cinta yang besar dan rasa saling membutuhkan (rahmah). Sehingga perkataan “menurutku penting, menurut Anda bagaimana?” yang biasanya diungkapkan ketika sedang curhat kepada teman-teman dekat, akan berganti menjadi menurutku penting, menurutmu bagaimana?kepada pasangan sendiri. 5.      memBuka keran komunikasi itu selebar-lebarnya dengan pasangan, supaya ia mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh pasangannya. Dengan demikian, masing-masing diri akan belajar memahami dan membuka diri terhadap pasangan. Tidak ada keluh-mengeluh ato memendam sendirian kekesalan itu, atau bahkan membuka rahasia itu kepada teman-teman terdekat !Waow Bukankah jauh lebih baik bila keterbukaan itu kita bangun bersama dengan suami atau istri tercinta? Selalu tak mudah dalam memulai sebuah kebiasaan baru. Namun, memulai berusaha untuk mendengarkan baik-baik dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik dan waktu yang tepat, akan menjadi awal bagi keterbukaan yang indah. Belajar untuk berempati, dan berpikir positif dahulu sebelum menilai sesuatu, pasti akan menjadi baik. Mengapa ia menganggap satu hal ini sebagai hal kecil dan sepele? Pasti ada alasannya misale begini begitu demikian demikian dan demikian. Jawaban itu pasti ada bila dibicarakan.Menurutku penting, menurutmu bagaimana?

12 November, 2007 Ditulis oleh farihik | Keluarga | | 1 Komentar

Hello world!

Ther’is strange fish YOU can see

No head but live  see at FISH

10 November, 2007 Ditulis oleh farihik | Uncategorized | | No Comments Yet